Logo Lamina

Perhatikan 5 Kebiasaan Penyebab Saraf Kejepit yang Harus Dihindari

kebiasaan penyebab saraf kejepit

Anda menderita saraf kejepit? Sebaiknya jangan diabaikan ya. Ternyata ada berbagai kebiasaan yang bisa menjadi penyebab saraf kejepit. Kondisi ini terjadi karena adanya tekanan berlebih pada saraf dari jaringan di sekitarnya, seperti tulang, tulang rawan, tendon, otot ataupun ligamen. Tekanan ini dapat menimbulkan rasa nyeri yang menjalar, kebas, kesemutan, hingga kelemahan otot.

Jika tidak segera tertangani, maka bisa berpotensi pada kerusakan saraf permanen dan risiko komplikasi lainnya. Ada begitu banyak kebiasaan yang tanpa kita sadari dapat memicu terjadinya saraf kejepit. Kebiasaan ini umumnya terkait dengan gaya hidup, postur tubuh ataupun aktivitas sehari-hari yang kita lakukan.

Oleh karena itu, hindari 5 kebiasaan berikut ini untuk mencegah terjadinya saraf kejepit, antara lain:

Postur Tubuh yang Salah

Ilustrasi seorang wanita mengalami sakit leher akibat posisi salah saat bekerja di depan laptop

Salah satu penyebab saraf kejepit yang sudah sering menjadi kebiasaan kita adalah bermain gadget atau bekerja di depan laptop dengan posisi leher yang menunduk. Hal ini tentu dapat berisiko pada saraf kejepit leher. Menunduk membuat struktur leher menekuk dan tulang belakang ikut bergeser.

Duduk Terlalu Lama

Duduk lama dengan posisi yang sama dan postur tubuh yang tidak baik bisa menyebabkan saraf kejepit. Posisi membungkuk atau tidak melakukan peregangan ketika duduk lama dapat memberikan tekanan besar pada area punggung bawah, sehingga sangat rentan terkena saraf kejepit di pinggang. Duduk lama juga membuat tulang belakang Anda bekerja lebih ekstra ketika akan berdiri.

Mengangkat Beban Berat

Melakukan aktivitas fisik yang berat seperti berolahraga, gym, atau angkat beban dapat memberikan tumpuan berlebihan pada tulang belakang. Hal inilah yang akan meningkatkan risiko terkena saraf kejepit. Oleh karena itu, hindari melakukan kegiatan atau olahraga dengan intensitas tinggi. Jika ingin melakukannya, cobalah lakukan pemanasan dengan cara tepat dan mulailah latihan dari intensitas rendah.

Baca Juga:  Beda Swab Test dan Rapid Test pada Diagnosis Covid-19

Malas Berolahraga

Jika Anda merasa malas untuk berolahraga, sebaiknya pikirkan ulang hal ini. Kebiasaan tidak rutin berolahraga akan membuat tyulang belakang lebih kaku dan rentan mengalami cedera dan saraf kejepit. Olahraga dapat membantu menguatkan otot tubuh dan tulang belakang, sehingga bisa mencegah terkena saraf kejepit. Jadi, mulai sekarang cobalah untuk aktif bergerak dan lakukan latihan untuk tetap menjaga kekuatan otot dan tulang belakang.

Makan Berlebihan

Makan berlebihan bisa menyebabkan obesitas. Obesitas juga merupakan salah satu pemicu saraf kejepit yang sebaiknya Anda waspadai. Penderita obesitas lebih rentan mengalami kondisi ini akibat punggung bawah yang menopang berat badan berlebih sehingga menimbulkan tekanan pada tulang belakang. Untuk itu, tetaplah menjaga berat badan ideal dengan pola makan bergizi seimbang, diet sehat dan rutin berolahraga.

Selain menghindari kebiasaan-kebiasaan tersebut, Anda juga sebaiknya memeriksakan diri ke dokter jika saraf kejepit sudah semakin parah. Dokter akan membantu meredakan nyeri dengan penanganan yang sesuai dengan lokasi dan kondisi saraf kejepit.

Penanganan Tepat Saraf Kejepit dengan Radiofrekuensi Ablasi

Pemberian obat anti nyeri merupakan penanganan awal bagi Anda yang memiliki gejala ringan saraf kejepit. Namun, ada kalanya nyeri memburuk dan menghambat berbagai aktivitas yang dilakukan.

Untuk mencegah kondisi yang tidak diinginkan, dokter akan menyarankan pengobatan lainnya, seperti radiofrekuensi ablasi. Radiofrekuensi ablasi (RFA) merupakan tindakan non-bedah yang memiliki risiko minimal terjadi perdarahan ataupun komplikasi.

Sebagai prosedur minimal invasif, dokter akan memasukkan jarum khusus ke area tulang belakang yang terkena saraf kejepit. RFA bekerja dengan panduan alat X-Ray fluoroscopy untuk memposisikan elektroda radiofrekuensi sedekat mungkin dengan target saraf yang dituju. Selanjutnya, dokter akan mengalirkan energi listrik melalui elektroda tersebut guna merusak serabut saraf dan memblok atau menghambat sinyal nyeri menuju ke otak. Dengan RFA, nyeri pun dapat berkurang dan Anda bisa beraktivitas kembali.

Baca Juga:  Rekomendasi Klinik Nyeri dan Tulang Belakang Terbaik di Jakarta, Lamina Pain and Spine Center

RFA hanya memerlukan waktu tindakan selama kurang lebih 15 menit dengan anestesi lokal. Tanpa perlu rawat inap, Anda bisa langsung pulang ke rumah dan kembali melakukan kontrol ke dokter untuk membantu mempercepat proses penyembuhan.

Untuk mengetahui lebih lanjut tentang saraf kejepit dan radiofrekuensi ablasi, silakan menghubungi nomor whatsapp di 0811-1443-599. Anda juga bisa menghubungi Assistance Center Lamina Pain and Spine Center di nomor 021-7919-6999.

Sebagai tambahan informasi, Lamina Pain and Spine Center berlokasi di Mampang Jakarta Selatan, Lamina Cibubur, Pulomas dan Kuningan. Kami juga memiliki layanan telekonsultasi langsung dengan dokter spesialis bedah saraf Lamina dan layanan ambulans untuk memfasiilitasi pengobatan Anda di Lamina.

Yuk, segera chat dan hubungi kami sekarang ya! Dijamin, nyeri saraf kejepit langsung hilang dan Anda bisa bebas beraktivitas kembali.

Baca juga: Awas, Saraf Kejepit Leher yang Diabaikan Bisa Picu Kelumpuhan!

Share via:
Artikel Terkait
Promo Terbaru
Artikel Populer
Topik Populer