Banyak sekali faktor yang menyebabkan saraf kejepit berisiko menyerang usia muda dan bukan hanya orang tua. Terkadang, Anda mengabaikan rasa nyeri pada punggung bawah (low back pain) dan tetap beraktivitas seperti biasa. Padahal, nyeri yang dibiarkan dan berkepanjangan bisa mengakibatkan saraf kejepit.
Saraf kejepit ini umumnya memang menyerang orang yang berusia lebih dari 50 tahun, namun karena gaya hidup yang salah, Anda yang berusia muda pun bisa mengalaminya. Lalu, apa itu saraf kejepit dan apa saja penyebabnya? Yuk, ketahui selengkapnya di sini!
Daftar isi [tutup]
- Pengertian Saraf Kejepit
- Siapa yang Lebih Berisiko?
- Risiko Saraf Kejepit Pada Usia Muda
- Perlukah ke Dokter?
- FAQ tentang Saraf Kejepit Pada Usia Muda
- Apakah saraf kejepit bisa menyerang usia muda?
- Bagaimana cara mengetahui jika saya mengalami saraf kejepit?
- Pada usia berapa penyakit saraf biasanya menyerang?
- Apa penyebab utama saraf kejepit?
- Apakah saraf kejepit bisa sembuh tanpa operasi?
Pengertian Saraf Kejepit
Saraf kejepit atau herniated nucleus pulposus (HNP), terjadi ketika ada bantalan atau cakram pada ruas tulang belakang yang menonjol keluar atau robek sehingga menekan jaringan saraf di sekitarnya.
Saraf kejepit menimbulkan beberapa gejala, seperti:
- Mati rasa atau kebas dan kehilangan sensasi pada area yang terkena saraf kejepit
- Timbul rasa nyeri seperti tertusuk atau terbakar yang menjalar keluar
- Sering merasa kesemutan
- Otot yang melemah pada bagian tubuh yang terkena
Keluhan saraf kejepit ini bisa semakin parah bahkan ketika Anda sedang tidur. Pada kondisi tertentu, nyeri akibat saraf kejepit bisa sembuh dengan sendirinya, namun jika dibiarkan maka bisa menyebabkan kelumpuhan.
Siapa yang Lebih Berisiko?

Ada beberapa faktor yang dapat meningkatkan risiko terkena saraf kejepit, yaitu:
- Berjenis kelamin wanita. Biasanya lebih sering terkena carpal tunnel syndrome (CTS).
- Osteofit atau bone spurs. Penyebab penebalan tulang ini adalah trauma atau kondisi lainnya seperti osteoarthritis.
- Rheumatoid arthritis. Kondisi ini terjadi akibat peradangan kronis pada sendi yang bisa menimbulkan rasa sakit, bengkak dan otot kaku.
- Penyakit tiroid. Orang yang menderita tiroid lebih berisiko terkena carpal tunnel syndrome.
- Faktor pertambahan usia (degeneratif). Usia yang semakin tua membuat bantalan sendi kehilangan kadar air.
- Obesitas. Berat badan yang berlebih dapat menambah tekanan pada saraf sehingga menyebabkan saraf kejepit.
Risiko Saraf Kejepit Pada Usia Muda
Pola hidup yang tidak tepat pada orang-orang berusia muda, membuatnya semakin rentan terkena saraf kejepit. Bukan hanya usia lanjut namun saraf kejepit juga bisa menyerang usia muda. Biasanya, saraf kejepit terjadi karena berbagai kondisi berikut ini:
- Postur tubuh yang salah saat duduk bekerja di depan laptop
- Duduk terlalu lama dalam posisi yang sama
- Naik turun tangga terlalu sering
- Mengangkat beban terlalu berat
- Melakukan aktivitas olahraga yang rentan cedera
Berbagai kebiasaan sehari-hari ini dapat menyebabkan Anda lebih berisiko mengalami saraf kejepit. Umumnya, nyeri yang timbul sering diabaikan karena hanya menganggapnya seperti rasa sakit biasa. Akan tetapi, jika tidak kunjung membaik dalam beberapa hari, sebaiknya segera berkonsultasi dengan dokter.
Perlukah ke Dokter?
Jika nyeri menetap dan malah membuat Anda tidak bisa melakukan aktivitas seperti biasa, segeralah ke dokter. Ada berbagai klinik atau rumah sakit yang saat ini menyediakan layanan kesehatan untuk menangani saraf kejepit. Namun, di Klinik Lamina Pain and Spine Center, kami memiliki dokter spesialis bedah saraf dengan menggunakan berbagai teknologi mutakhir untuk saraf kejepit.
Tim dokter di Lamina Pain and Spine Center telah berpengalaman dalam menangani lebih dari 1600 tindakan endoskopi tulang belakang terbesar se-Asia Tenggara. Salah satu metode pengobatan terbaik yang kami lakukan, yaitu endoskopi PECD, PSLD, PELD, dan laser PLDD.
Dengan teknologi Joimax dari Jerman, endoskopi tulang belakang memiliki berbagai keunggulan dalam menangani saraf kejepit. Keunggulannya antara lain minimal invasif, durasi tindakan relatif singkat, luka sayatan minimal, masa penyembuhan cepat dan tanpa rawat inap pasca tindakan.
Berbagai keunggulan tersebut tentunya bisa membuat Anda lebih nyaman dan merasa aman karena tanpa harus melakukan operasi besar (konvensional).
Jadi, tak perlu khawatir lagi karena hanya di Lamina Pain and Spine Center, Anda bisa bebas dari nyeri saraf kejepit. Yuk, berkonsultasi dengan dokter Lamina dan Anda bisa beraktivitas kembali! Hubungi Care Line Officer Lamina Pain and Spine Center pada nomor yang tertera di website ini.
Semoga bermanfaat ya!
Baca juga: Bisakah Saraf Kejepit Sembuh Tanpa Operasi? Simak Penjelasannya!
FAQ tentang Saraf Kejepit Pada Usia Muda
Apakah saraf kejepit bisa menyerang usia muda?
Saraf kejepit memang lebih sering dikaitkan dengan usia lanjut, namun faktanya, kondisi ini juga dapat dialami oleh mereka yang berusia muda, terutama pada rentang usia 20 hingga 40 tahun. Pola hidup yang tidak sehat, postur tubuh yang salah, atau aktivitas yang berlebihan tanpa disertai peregangan sering menjadi penyebab utamanya.
Bagaimana cara mengetahui jika saya mengalami saraf kejepit?
Beberapa gejala yang menandakan saraf kejepit antara lain:
Rasa nyeri yang dapat mengganggu aktivitas sehari-hari, termasuk saat tidur.
Jika gejala tersebut muncul, sebaiknya segera konsultasikan dengan dokter untuk pemeriksaan lebih lanjut.
Nyeri seperti terbakar atau tertusuk jarum yang menjalar ke bagian tubuh lain.
Kesemutan atau mati rasa di area yang terkena.
Kelemahan otot, terutama pada tangan atau kaki.
Pada usia berapa penyakit saraf biasanya menyerang?
Meskipun penyakit saraf lebih sering terjadi pada usia di atas 50 tahun karena proses degeneratif, orang yang lebih muda juga bisa mengalaminya. Faktor risiko seperti postur tubuh yang salah, kebiasaan duduk terlalu lama, atau obesitas dapat meningkatkan kemungkinan terkena saraf kejepit pada usia muda.
Apa penyebab utama saraf kejepit?
Saraf kejepit terjadi ketika ada tekanan berlebih pada saraf akibat berbagai faktor, seperti:
Pembengkakan yang menekan saraf, sering terjadi pada kondisi seperti rheumatoid arthritis atau obesitas.
Penting untuk menjaga postur tubuh dan menghindari kebiasaan yang dapat memicu tekanan pada saraf.
Postur tubuh yang salah, misalnya saat duduk atau berdiri terlalu lama.
Cedera akibat aktivitas berat atau olahraga.
Apakah saraf kejepit bisa sembuh tanpa operasi?
Pada beberapa kasus, saraf kejepit dapat sembuh tanpa operasi. Cara yang dapat dilakukan meliputi:
Terapi fisik untuk memperkuat otot dan memperbaiki postur tubuh.
Namun, jika gejala tidak kunjung membaik atau semakin parah, tindakan medis seperti endoskopi minimal invasif di Lamina Pain and Spine Center dapat menjadi solusi yang efektif.
Istirahat yang cukup dan menghindari aktivitas berat.
Menggunakan kompres dingin atau panas untuk meredakan nyeri.