preloader
Edit

Tentang Kita

Lamina Pain and Spine Center merupakan pusat pelayanan masalah nyeri dan tulang belakang di Jakarta yang mengkolaborasikan beberapa bidang ilmu kedokteran yakni kedokteran fisik dan rehabilitasi, bedah saraf dan anestesi.

Info Kontak

Nyeri Diskogenik dan Nyeri Pinggang Biasa, Apa Bedanya?

  • Home
  • -
  • Blog
  • -
  • Nyeri Diskogenik dan Nyeri Pinggang Biasa, Apa Bedanya?
 Nyeri Diskogenik dan Nyeri Pinggang Biasa, Apa Bedanya?

Nyeri diskogenik merupakan salah satu dari sekian banyak penyebab nyeri tulang belakang.

Nyeri diskogenik ini terjadi biasanya akibat adanya kerusakan pada bantalan tulang (diskus) yang ada antara tulang belakang, dari leher hingga pinggang.

Menurut International Association for the Study of Pain (IASP), definisi nyeri diskogenik adalah nyeri tulang belakang, dengan atau tanpa nyeri menjalar ke tungkai bawah, dan biasanya nyeri ini yang berasal dari diskus intervertebralis.

Sekitar 40% dari semua nyeri tulang belakang kronis terkait dengan bantalan tulang yang bermasalah.

Jika Anda mengalami nyeri kronis pada leher dan pinggang, ada banyak penyebab yang dapat menyebabkannya. Dan bila hasil pemeriksaan ternyata Anda tidak mengalami saraf kejepit atau hernia nukelus pulposus (HNP), berarti kemungkinan besar nyeri tersebut berupa nyeri diskogenik.

Nyeri ini terjadi berkaitan dengan proses degenerasi diskus atau bantalan tulang pada tulang belakang. Proses degenerasi adalah perubahan yang terjadi akibat usia atau gaya hidup. Namun masalahnya, degenerasi diskus ini tidak selalu menimbulkan nyeri.

Akibat Bantalan Tulang Bermasalah

Struktur bantalan tulang belakang terdiri dari tulang rawan dan kolagen seperti layaknya jeli. Bantalan ulang ini bekerja seperti ban.

Bila tidak ada bantalan tulang antara tulang belakang, maka saat bergerak tulang akan saling beradu. Disinilah peran penting bantalan tulang sebagai peredam kejut (shock absorber).

Bila bantalan tulang ini mendapatkan beban berat berlebihan secara terus menerus, atau mengangkat benda berat melebihi kemampuan, maka kebiasaan ini dapat memperbesar risiko bantalan tulang akan memipih/gepeng atau pecah/bocor dan mudah bergeser sehingga kelenturannya juga berkurang. Nah ini akan menimbulkan nyeri diskogenik.

Nyeri Diskogenik dan Saraf Kejepit

Gejala utama nyeri diskogenik adalah nyeri yang tidak menjalar ke kaki atau lengan dan biasanya tidak terkait dengan kelemahan otot-otot anggota gerak, seperti tangan dan kaki.

Pada area punggung bawah atau pinggang, nyeri biasanya memburuk saat tulang belakang tertekan. Aktivitas, seperti duduk, membungkuk, batuk, dan bersin cenderung menimbulkan nyeri, sementara berbaring nyerinya cenderung menghilang.

Sedangkan pada leher terasa nyeri saat memutar atau memiringkan kepala. Nyeri dapat memburuk parah jika Anda menahan kepala dalam satu posisi terlalu lama. Kejang otot terkadang menyertai nyeri diskogenik pada leher.

“Nyeri diskogenik ini menjadi salah satu penyebab sakit pinggang, dan bisa menjadi cikal bakal terjadinya saraf kejepit di kemudian hari,” jelas dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS.

“Orang yang mengalami saraf kejepit biasanya pada awal-awal mengalami nyeri diskogenik ini, dan karena keluhan nyeri diskogenik tidak berat, seringkali pasien mengabaikannya dan menganggap nyerinya hanya nyeri pinggang biasa,” paparnya lebih lanjut.

Kenali Bedanya

Mengenai perbedaan antara nyeri diskogenik dan nyeri pinggang lainnya, dr. Mahdian menjelaskan, gejalanya berbeda. Kalau nyeri diskogenik, nyeri akan terasa terutama saat duduk dan bangun tidur.

Keluhannya duduk kira-kira 1 jam, pinggang sudah terasa tidak nyaman karena ada nyeri, namun saat berjalan, nyeri ini menghilang.

Kalau nyeri akibat ada masalah pada sendi, misalnya pada sendi faset, keluhan yang terasa adalah nyeri terasa saat bergerak, atau saat bangun dari duduk, membungkuk atau saat berolahraga.

Nyeri pinggang akibat saraf kejepit biasanya akan menjalar hingga tungkai atau kaki. Kebas, kesemutan dan kelemahan otot (kelumpuhan) menyertai nyeri ini.

Penyebab nyeri diskogenik dan perubahan degeneratif pada tulang belakang adalah multifaktorial dan dapat bervariasi, yang dapat berupa:

– kelebihan beban mekanis (penggunaan otot secara berlebihan , obesitas, trauma/cedera)

– stres oksidatif

– gangguan metabolisme

– genetik atau keturunan

Faktor genetik mungkin juga berperan dalam terjadinya nyeri ini karena dapat memengaruhi komposisi kimia bantalan tulang sehingga kemungkinan dapat menyebabkan perubahan metabolisme, seperti bantalan tulang yang lebih cepat kehilangan kandungan airnya, sehingga kemampuannya menahan beban secara merata menjadi berkurang.

Pemeriksaan Penunjang

Satu-satunya pemeriksaan yang masih menjadi andalan adalah MRI. “Pada pencitraan ini akan tampak seluruh struktur tulang belakang – seperti bantalan sendi, otot, sendi, saraf, ligament – beserta bila ada tumor, cedera, atau infeksi juga akan terdeteksi.”

Pengobatan Nyeri

Beristirahat adalah langkah utama mengatasi nyeri ini. “Istirahat dalam hal artinya adalah mengistirahatkan bantalan tulang. Caranya adalah dengan mengurangi duduk atau jangan duduk terlalu lama,” tambah dokter spesialis bedah saraf ini lebih lanjut.

Anda harus Menghindari gerakan angkat benda atau beban berat, membungkuk seperti memungut benda dari lantai atau bercocok tanam, karena kebiasaan ini dapat mencederai bantalan tulang.

Bagaimana dengan pemberian obat? Mengingat bantalan tulang tidak memiliki pembuluh darah (avaskular), obat tidak akan berpengaruh dan hanya membantu mengurangi keluhan nyeri.

Nyeri jenis ini dapat berkurang atau mereda, dengan:

  • Menurunkan berat badan bila berlebihan
  • Menghindari aktivitas banyak membungkuk
  • Menghindari aktivitas yang harus duduk dalam waktu lama, misalnya menyetir mobil, kerja kantoran

“Bila harus duduk lama saat bekerja, sebaiknya membawa dan meletakkan bantal kecil pada kursi sebagai penyangga atau penopang tulang belakang dan jangan lupa selingi dengan istirahat, misalnya duduk 1 jam kemudian istirahat kurang lebih 10 menit.”

Pilihan Terapi Nyeri Diskogenik

Beberapa hasil penelitian menunjukkan, nyeri jenis ini dapat terbantu dengan terapi konservatif dan terapi intervensi.

Terapi konservatif (menurut Kallewaard dkk, 2010) dapat berupa obat pereda rasa nyeri memiliki dampak positif pada nyeri diskogenik.

Namun studi ini menjelaskan, pemberian obat antiinflamasi nonsteroid (OAINS) memiliki batas waktu tertentu. Sedangkan terapi intervensi yang dapat membantu meredakan atau mengurangi proses peradangan pada nyeri diskogenik, seperti injeksi steroid dan radiofrekuensi ablasi.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Subscribe to our
Newsletter

***We Promise, no spam!

Lamina Pain and Spine Center merupakan One Stop Service untuk menangani nyeri dan masalah pada tulang belakang yang didukung oleh teknologi terkini

Operasional Klinik

Senin : 08.00 - 22.00
Selasa : 08.00 - 22.00
Rabu : 08.00 - 22.00
Kamis : 08.00 - 22.00
Jumat : 08.00 - 22.00
Sabtu : 08.00 - 22.00
Minggu : Tutup

©2020, Lamina Pain and Spine Center. Media All Rights Reserved.

PT Sejahtera Berkah Medika

    Daftar Online

    Daftar Online