Mengenal Bell’s Palsy: Gejala, Penyebab dan Pengobatannya

bell's- palsy

Bell’s palsy merupakan kondisi lumpuhnya otot wajah yang kemudian menyebabkan salah satu sisi wajah seperti melorot. Kemunculannya bisa secara tiba-tiba, numun umumnya tidak bersifat permanen atau selamanya.

Bagi orang yang belum mengetahui tentang kondisi ini, seringnya menganggap sebagai penyakit stroke karena memiliki gejala yang sama. Padahal, keduanya merupakan penyakit yang berbeda. Pada Bell’s palsy gejalanya hanya sebatas pada otot wajah dan sebagian besar pasien bisa pulih dalam waktu 6 bulan.

Apa saja gejala Bells’s palsy?

Kondisi ini di tandai dengan lumpuhnya salah satu sisi wajah yang membuat perubahan pada bentuk wajah. Penderita penyakit ini akan mengalami sulit tersenyum dengan simetris atau pun menutu mata pada bagian yang mengalami kelumpuhan. Berikut gejala yang bisa di alami:

  • Kulit wajah seperti melorot pada satu atau kedua sisi wajah.
  • Mengeluarkan air liur
  • Mudah sensitif terhadap suara
  • Merasakan nyeri pada rahang atau  belakang telinga
  • Mengalami sakit kepala
  • Alami kelumpuan  total pada salah satu sisi wajah (berlangsung selama beberapa jam atau beberapa hari)

Apakah yang menjadi penyebabnya?

Penyakit ini siapapun bisa mengalaminya, namun lebih seringnya terjadi pada orang-orang yang berusia 15 sampai 60 tahun.

Penyebab terjadinya masih belum bisa di pastikan, namun seringnya berkaitan dengan infeksi virus. Beberapa virus yang di duga menjadi penyebab penyakit ini adalah:

  • Herpes simplex penyebab penyakit kelamin
  • Varicella zoster penyebab cacar air
  • Rubella penyebab campak Jerman
  • Adenovirus penyebab penyakit pernapasan
  • Virus flu tipe B penyebab influenza

Dan masih banyak lagi. Selain akibat infeksi virus bisa juga karena  penyakit tertentu, seperti infeksi telinga bagian tengah, hipertensi dan diabetes

Baca Juga:  Spinal Stenosis: Penyakit Penyempitan Tulang Belakang yang Bisa Menghambat Mobilitas

Apakah bisa menyebabkan komplikasi?

Jika kondisinya tidak terlalu parah, biasanya akan menghilang dalam kurun waktu satu bulan. Namun, pada kasus yang lebih parah, bisa menyebabkan komplikasi, seperti:

  • Kerusakan syaraf wajah permanen
  • Luka pada kornea mata
  • Gerakan otot yang tidak sengaja atau tanpa perintah

Untuk mencegah kondisi yang semakin parah hingga menyebabkan komplikasi, segera melakukan pemeriksaan dengan dokter. Dokter akan melakukan pemeriksaan gerakan wajah pada pasien selain melakukan pemeriksaan fisik. Selain itu, dokter akan melakukan pemeriksaan medis lanjutan, seperti tes darah, elektromiografi, CT scan dan MRI untuk mengetahui penyebabnya.

Penanganan seperi apa yang perlu dilakukan?

Terapi bertujuan untuk membantu mempercepat proses penyembuhan dan mencegah timbulnya komplikasi. Terapinya bisa berupa pemberian obat-obatan, seperti obat kortikosteroid, obat antivirus dan obat pereda nyeri.

Tidak hanya obat-obatan saja yang bisa membantu percepat proses penyembuhan. Melakukan fisioterapi juga dapat membantu percepat kembalinya fungsi saraf dan otot wajah.

Selain fisioterapi, dokter juga bisa memberikan suntik botox jika pasien mengalami ketegangan pada salah satu otot wajah.

Bagi pasien yang sulit menutup kelopaka mata atau mengalami gangguan pada kelenjar air mata, memerlukan perawatan tambahan untuk mencegah mata kering.

Share via:
Artikel Terkait
Promo Terbaru
Artikel Populer
Topik Populer