Perhatikan 5 Hal Ini Sebelum Minum Obat Pereda Nyeri Agar Lebih Efektif

obat pereda nyeri

Obat pereda nyeri terkadang dikonsumsi ketika Anda mungkin sedang stres karena deadline atau kerjaan yang menumpuk. Sehingga, salah satu cara untuk menghilangkan nyeri karena sakit kepala ini adalah minum obat penghilang rasa sakit yang bisa dibeli bebas di apotek. Namun, tetap perhatikan dosis sesuai anjuran yang tertera di obat dan ada beberapa tips yang bisa Anda lakukan agar obat tersebut efektif untuk redakan nyeri.

Tips Aman Mengonsumsi Obat Pereda Nyeri

Ada beberapa jenis dan golongan obat pereda nyeri sesuai kondisi kesehatan yang Anda alami. Masing-masing obat pasti memiliki efek samping dan dosis yang berbeda. Nah, agar obat yang Anda minum lebih ampuh dan hasilnya optimal, maka lakukan hal-hal berikut ini:

Pahami anjuran atau dosis penggunaan obat

Ikuti aturan penggunaan dari tenaga medis atau sesuai dosis yang tercantum pada kemasan obat. Biasanya dosis tersebut bisa untuk sekali minum atau tiga kali minum dalam sehari. Misalnya, parasetamol 500-1000 mg sekali minum, maksimum 400 mg/ hari; atau ibuprofen 200-400mg sekali minum, maksimum 1200 mg/hari.

Ketahui bahan-bahan aktifnya

Sebelum membeli obat, ketahui dulu kandungan di dalamnya yang secara efektif bisa meredakan nyeri. Terutama bagi Anda yang memiliki penyakit tertentu, supaya tidak sembarang mengonsumsi obat sehingga tidak menimbulkan efek samping yang malah bisa membahayakan kesehatan.

Perhatikan efek samping yang bisa timbul

Efek samping setiap obat berbeda tergantung dari jenisnya. Jenis obat antiinflamasi non steroid (OAINS) seperti ibuprofen dan aspirin dapat mengakibatkan meningkatnya denyut jantung, masalah pencernaan dan kepala pusing. Bagi Anda yang memiliki penyakit asam lambung, penyakit jantung atau migran kronis, sebaiknya berkonsultasi terlebih dahulu dengan dokter.

Baca Juga:  Waspada, Skiatika Bisa Memicu Sakit Pinggang Sampai ke Kaki!

Beritahu dokter jika sedang mengonsumsi obat lain

Jika Anda memiliki riwayat kesehatan tertentu dan sedang mengonsumsi obat lain, jangan lupa untuk memberitahukannya ke dokter. Sebab, ada beberapa obat yang tidak bisa berinetraksi dengan obat lainnya dan malah akan menimbulkan efek samping. Misalnya, konsumsi ibuprofen jika bersama dengan obat anti hipertensi bisa meningkatkan tekanan darah.

Lihat tanggal kadaluarsa obat

Periksalah tanggal kadaluarsa obat sebelum membelinya. Terkadang obat pereda nyeri yang terjual bebas telah memasuki tanggal kadaluarsa tapi tetap dijual. Hal ini bisa memengaruhi bahan kimia yang terkandung di dalamnya. Oleh karena itu, tentu bisa berisiko pada kesehatan Anda dan ada efek samping yang bisa timbul setelah mengonsumsinya.

Nah, berbagai tips tadi bisa Anda terapkan sebelum membeli obat pereda nyeri yang terjual bebas di apotek maupun supermarket. Sebaiknya ikuti tata cara dan anjuran penggunaan obat agar hasilnya lebih optimal dan mencegah efek samping yang berbahaya.

Jika nyeri tak kunjung membaik, Anda bisa berkonsultasi dengan dokter ahli untuk diagnosa dan pengobatan lanjutan. Lamina Pain and Spine Center memiliki dokter spesialis penyakit dalam, yaitu dr.Melsa Aprima, SpPD, yang akan membantu mengelola gejala dan penanganan yang sesuai dengan kondisi kesehatan Anda.

Untuk informasi lebih lanjut, silakan hubungi Care Line Officer di Klinik Lamina pada nomor kontak yang tertera di website. Atau follow Instagram @lamina_id untuk update seputar nyeri dan kondisi medis lainnya.

Semoga bermanfaat!

Baca juga: Inilah Mitos dan Fakta Obat Saraf Kejepit yang Ampuh Redakan Nyeri

FAQ: Pertanyaan Seputar Perhatikan 5 Hal Ini Sebelum Minum Obat Pereda Nyeri Agar Lebih Efektif

Apakah obat pereda nyeri harus diminum setelah makan?

Beberapa jenis obat pereda nyeri, terutama golongan antiinflamasi nonsteroid (OAINS) seperti aspirin atau ibuprofen, sebaiknya dikonsumsi setelah makan. Hal ini bertujuan untuk menghindari gangguan pencernaan atau risiko perdarahan pada lambung. Jika dikonsumsi dalam keadaan perut kosong, obat ini dapat meningkatkan iritasi lambung, terutama bagi mereka yang memiliki riwayat asam lambung atau penyakit pencernaan lainnya.

Apakah boleh mengonsumsi obat pereda nyeri setiap hari?

Konsumsi obat pereda nyeri dalam jangka panjang harus sesuai dengan anjuran dokter, karena penggunaan berlebihan dapat menimbulkan efek samping serius. Sebagai contoh, parasetamol tidak boleh dikonsumsi lebih dari 4 gram dalam 24 jam karena dapat menyebabkan gangguan fungsi hati. Sementara itu, penggunaan OAINS seperti ibuprofen atau naproxen dalam jangka panjang dapat meningkatkan risiko gangguan pencernaan, tekanan darah tinggi, atau masalah ginjal. Jika nyeri tidak kunjung reda, sebaiknya konsultasikan dengan dokter untuk mendapatkan penanganan yang lebih tepat.

Baca Juga:  Nyeri Leher Menjalar Tanda Saraf Kejepit?Waspada Gejalanya!

Apa saja pilihan obat pereda nyeri yang direkomendasikan?

Beberapa jenis obat pereda nyeri yang umum digunakan meliputi:

Iremax 200 mg – mengandung ibuprofen, cocok untuk nyeri akibat peradangan.
Pemilihan obat harus disesuaikan dengan kondisi medis masing-masing dan dikonsumsi sesuai dosis yang dianjurkan.

Voltaren Emulgel – obat topikal berbasis diclofenac yang dapat meredakan nyeri otot atau sendi.

Proris Triple Action – mengandung ibuprofen, cocok untuk mengatasi nyeri ringan hingga sedang.

Cataflam 25 mg – mengandung diclofenac potassium, efektif untuk mengatasi nyeri inflamasi seperti nyeri sendi atau sakit gigi.

Voltaren SR 75 mg – digunakan untuk meredakan nyeri kronis yang membutuhkan kontrol jangka panjang.

Bagaimana cara kerja obat pereda nyeri dalam tubuh?

Obat pereda nyeri atau analgesik bekerja dengan dua mekanisme utama:

Mengubah persepsi rasa sakit di otak: Obat seperti parasetamol bekerja dengan memengaruhi pusat pengolahan rasa sakit di otak sehingga nyeri terasa lebih ringan atau hilang sementara.
Mekanisme ini membantu meredakan nyeri akibat berbagai kondisi, seperti sakit kepala, nyeri sendi, atau nyeri akibat saraf kejepit.

Mengurangi peradangan: Obat golongan OAINS, seperti ibuprofen dan aspirin, bekerja dengan menghambat enzim COX yang berperan dalam produksi prostaglandin, senyawa penyebab peradangan dan nyeri di tubuh.

Makanan apa yang sebaiknya dikonsumsi sebelum minum obat?

Sebelum mengonsumsi obat, disarankan untuk memilih makanan yang tidak mengganggu penyerapan obat dan tidak memicu efek samping. Makanan yang tidak mengandung kalsium, serat tinggi, atau lemak berlebih lebih disarankan, misalnya:

Sayuran yang dimasak, agar lebih ramah bagi sistem pencernaan.
Hindari makanan tinggi kalsium, seperti susu atau keju, jika sedang mengonsumsi obat tertentu yang dapat berinteraksi dengan mineral tersebut.

Nasi putih atau pasta tanpa lemak, yang lebih mudah dicerna.

Protein tanpa lemak, seperti ayam atau ikan, untuk membantu penyerapan obat.

Share via:
Facebook
Threads
WhatsApp
Artikel Terkait
Artikel Populer
Topik Populer