preloader
Edit

Tentang Kita

Lamina Pain and Spine Center merupakan pusat pelayanan masalah nyeri dan tulang belakang di Jakarta yang mengkolaborasikan beberapa bidang ilmu kedokteran yakni kedokteran fisik dan rehabilitasi, bedah saraf dan anestesi.

Info Kontak

MISS, Minimally Invasive Spinal Surgery Sudah Dapat Dilakukan di Indonesia

  • Home
  • -
  • Blog
  • -
  • MISS, Minimally Invasive Spinal Surgery Sudah Dapat Dilakukan di Indonesia
 MISS, Minimally Invasive Spinal Surgery Sudah Dapat Dilakukan di Indonesia

MISS atau minimally invasive spinal surgery untuk mengatasi keluhan nyeri tulang belakang sudah ada di Indonesia. Jadi tak perlu lagi ke luar negeri.

Masalah pada tulang belakang dapat menimbulkan nyeri berkepanjangan atau kronis, kesemutan, kebas, dan kadang hal ini dapat membuat Anda menunda atau bahkan membatalkan rencana pekerjaan atau perjalanan liburan sehingga juga berdampak pada kualitas hidup.

Kini perkembangan teknologi membawa kabar baik untuk Anda dengan nyeri tulang belakang. Tindakan mengatasi nyeri tulang belakang pun semakin berkembang yang tidak perlu lagi dengan tindakan bedah besar.

Prosedur tindakan dengan menggunakan berbagai instrumen sudah banyak dilakukan di berbagai negara yaitu Minimally Invasive Spinal Surgery (MISS).

MISS atau bedah tulang belakang invasif minimal adalah metode terkini untuk mengatasi gangguan tulang belakang dengan prinsip invasif minimal.

Teknologi MISS dan Tindakan Bedah Konvensional

Menurut dr. Bjerke, dokter bedah tulang belakang di Iowa, MISS memiliki arti dokter menggunakan teknik visualisasi khusus atau  pencitraan agar dapat melakukan navigasi dengan bantuan peralatan canggih seperti C-arm, untuk melihat strukur anatomi tulang belakang yang akan tampak pada layar komputer sehingga tindakan akurat.

Dibandingkan dengan tindakan bedah konvensional, dr. Mahdian Nur Nasution, SpBS menjabarkan, tindakan bedah untuk kasus tulang belakang yang bermasalah sering membuat para penderitanya khawatir akan risiko kelumpuhan. “Belum lagi tindakan bedah konvensional memerlukan rawat inap dan proses pemulihan yang tidak sebentar,” lanjutnya.

Sedangkan dengan MISS, selain meminimalkan risiko tertentu, metode mutakhir terbaru bedah tulang belakang ini juga dapat meminimalkan rasa khawatir dan menjadi salah satu alternatif baru pada pasien yang memang memiliki risiko tinggi untuk dilakukannya operasi besar.

Beda MISS dan Bedah Konvensional

Salah satu kelemahan utama dari operasi terbuka adalah retraksi otot yang dapat berisiko merusak, baik otot maupun jaringan lunak di sekitarnya. Meskipun tujuan retraksi otot adalah untuk membantu dokter bedah melihat dengan mudah area yang bermasalah.

Akibatnya, potensi cedera otot lebih besar, dan pasien mungkin mengalami nyeri setelah operasi yang berbeda dengan nyeri sebelum tindakan.

Hal inilah yang dapat menyebabkan masa pemulihan yang lebih lama. Sayatan yang lebih besar dan kerusakan jaringan lunak juga dapat meningkatkan kehilangan darah dan risiko infeksi.

Tujuan Konvensional dan MISS dalam Penanganan Nyeri

Tindakan bedah, baik konvensional maupun dengan MISS, sebenarnya memiliki tujuan yang sama, yaitu:

– Dekompresi. Dekompresi spinal (tulang belakang) dilakukan dengan mengangkat/meniadakan jaringan yang menjepit struktur saraf. Taji tulang (bone spur/osteofit) dan/atau bantalan tulang belakang yang menonjol adalah beberapa contoh jaringan yang dapat menyebabkan saraf kejepit.

– Stabilisasi. Bila ada masalah pada tulang leher atau pinggang, gerakan pun dapat menyebabkan nyeri. MISS ini dilakukan untuk menstabilkan atau menghentikan gerakan tulang belakang yang tidak normal.

Meskipun penanganan dengan non-bedah (misalnya,obat-obatan, terapi fisik) dapat mengurangi nyeri punggung atau nyeri leher secara efektif pada sebagian penderita nyeri tulang belakang, namun ada sebagian kecil  yang mungkin perlu menjalani tindakan tertentu untuk mengatasinya.

Jika Anda sedang mempertimbangkan untuk melakukan tindakan tertentu, dokter mungkin akan merekomendasikan untuk memilih metode MISS daripada operasi terbuka konvensional.

Metode invasif minimal ini hanya memerlukan sayatan kecil sekitar 7 mm, sehingga meminimalkan risiko terjadinya perdarahan dan nyeri pascatindakan.

Teknologi MISS di Indonesia

Beberapa teknologi MISS yang sudah tersedia di Indonesia adalah:

  1. Endoskopi PELD (percutaneous endoscopic lumbar discectomy)
  2. PECD atau percutaneous endoscopic cervical discectomy
  3. Percutaneous laser disc decompression (PLDD)
  4. Endoskopi PSLD (percutaneous stenoscopic lumbar decompression)
  5. Vertebroplasty dan kyphoplasty

“Klinik Lamina sudah dapat melakukan teknologi MISS tersebut dan untuk membantu mengatasi nyeri, kami juga memiliki metode radiofrekuensi ablasi untuk membantu mengatasi nyeri tulang belakang dan nyeri wajah akibat trigeminal neuralgia,” lanjut dokter spesialis bedah saraf ini lebih lanjut.

MISS dan Keunggulannya

Mengenai keunggulan tindakan invasif minimal, dr. Mahdian memaparkan sebagai berikut:

– Proses pemulihan lebih cepat

– Tanpa rawat inap. Namun kadang rawat inap ini diperlukan pada pasien yang menggunakan asuransi tertentu

– Meminimalkan risiko infeksi

– Nyeri pasca-tindakan minimal sehingga dapat mengurangi pemakaian obat antinyeri sebelumnya

– Risiko perdarahan minimal

– Risiko kerusakan jaringan sekitar minimal

– Hanya memerlukan sayatan kecil atau sekitar 7 mm

– Berlangsung dalam waktu yang lebih singkat sekitar 45 menit

– Risiko terjadinya luka jaringan parut juga minimal

– Proses pemulihan lebih cepat sehingga dapat kembali beraktivitas

– Kualitas hidup juga menjadi lebih baik

– Hanya dengan anestesi atau bius lokal, yang berbeda dengan tindakan bedah konvensional perlu anestesi umum atau menyeluruh

MISS Dapat Menangani 9 Masalah Tulang Belakang

1.Degenerative disc disease (DDD) atau tulang belakang degeneratif, yang sering mengenai tulang servikal (leher) dan lumbar (pinggang). Kondisi ini terjadi seiring dengan proses penuaan, namun kini usia muda juga bisa mengalaminya. Kerusakan sesuai usia ini dapat mengubah struktur tulang, yang secara bertahap mengubah elastisitasnya, fleksibilitasnya, kekuatan dan kemampuan untuk menyerap goncangan menurun bergitu pula dapat mengubah tinggi dan bentuknya. Kesemuanya ini dapat menyebabkan robekan atau menonjolnya bantalan ruas tulang belakang.

2. Hernia nukleus pulposus (HNP) atau saraf kejepit. Kondisi ini terjadi saat inti (nukleus pulposus) bantalan tulang yang tersusun dari bahan seperti jel, bocor atau merembes keluar dari cincin yang melingkarinya (annulus fibrosus). Selanjutnya dapat menjepit saraf tulang belakang yang mengakibatkan peradangan dan nyeri.

3.Sciatica, yang merupakan kelompok gejala akibat jepitan pada saraf sciatica (saraf terpanjang, dari pinggang bawah, bokong, paha belakang, lutut hingga ke kaki). Akibat hal ini menimbulkan nyeri, kebas, kesemutan, dan kadang nyeri timbul di bawah lutut.

4.Skoliosis atau kelainan bentuk (deformitas) tulang belakang yang dapat mengubah kelengkungan alami tulang belakang. Kondisi ini dapat memengaruhi keseimbangan, fleksibilitas dan kesejajaran tulang belakang.

Dapat Menangani Masalah Tulang Belakang Lainnya

5.Stenosis spinal atau penyempitan rongga tulang belakang. Hal ini dapat terjadi akibat adanya taji tulang (bone spur) menekan saraf di sekitarnya sehingga mengakibatkan nyeri, kebas, kesemutan dan/atau kelemahan pada otot.

6. Spondylolithesis, akibat bergesernya ruas tulang belakang dari tempat semula. keparahannya terdiri dari 5 tahapan. Kondisi ini biasanya terjadi pada tulang lumbar (pinggang) dan bisa menetap atau progresif.

7. Fraktur kompresi pada tulang belakang, bisa akibat cedera dan/atau tulang keropos (osteoporosis). Vertebroplasty dan kyphoplasty menjadi pilihan invasive minimal untuk menangani kondisi ini.

8. Infeksi tulang belakang. Kondisi ini dpaat mengenai tulang belakang maupun bantalan antarruas tulang belakang. Nyeri berkelanjutan tanpa cedera sebelumnya bisa menjadi tanda adanya infeksi ini.

9. Tumor. Tumor bisa ganas (maligna) atau jinak (benigna). selain itu bisa primer (bila memang tumbuh di tulang belakang) atau merupakan metastasis (penyebaran) dari tempat lain seperti paru atau payudara.

Persiapan Sebelum Tindakan MISS

Beberapa persiapan yang perlu Anda lakukan antara lain, dokter akan meminta Anda untuk melakukan pemeriksaan radiologis sebagai penunjang, seperti rontgen atau MRI.

Menginformasikan kepada dokter mengenai obat-obatan yang tengah Anda konsumsi, seperti obat pengencer darah, obat antinyeri lainnya.

Kemungkinan sehari sebelum melakukan tindakan ini, dokter akan menganjurkan Anda untuk berpuasa, tidak makan dan tidak minum. Jangan lupa infokan pada dokter bila Anda mengalami kondisi tertentu, seperti demam. 

Pantangan Aktivitas Pasca-MISS

Walaupun tindakan ini invasif minimal, namun ada beberapa pantangan aktivitas yang perlu Anda lakukan.

Dokter Mahdian memaparkan pantangannya yaitu tidak boleh membungkuk, tidak boleh mengangkat benda berat, tidak boleh naik turun tangga dan tidak boleh duduk terlalu lama.

Setelah tindakan, kemungkinan Anda juga perlu memakai korset guna membantu memperkuat otot-otot sekitar tulang belakang.

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Subscribe to our
Newsletter

***We Promise, no spam!

Lamina Pain and Spine Center merupakan One Stop Service untuk menangani nyeri dan masalah pada tulang belakang yang didukung oleh teknologi terkini

Operasional Klinik

Senin : 08.00 - 22.00
Selasa : 08.00 - 22.00
Rabu : 08.00 - 22.00
Kamis : 08.00 - 22.00
Jumat : 08.00 - 22.00
Sabtu : 08.00 - 22.00
Minggu : Tutup

©2020, Lamina Pain and Spine Center. Media All Rights Reserved.

PT Sejahtera Berkah Medika

    Daftar Online

    Daftar Online