Belakangan ini, makin banyak anak muda mengeluh sakit pinggang, nyeri leher, hingga kesemutan yang menjalar ke kaki atau tangan. Ironisnya, banyak yang menganggap kondisi tersebut hanya akibat “kecapekan biasa” karena kerja depan laptop atau terlalu sering main gadget.
Padahal, dalam podcast bersama Raditya Dika, dr. Mahdian Nur Nasution menjelaskan bahwa kebiasaan sehari-hari yang terlihat sepele bisa menjadi awal munculnya saraf kejepit. Pembahasannya ramai diperbincangkan karena relate dengan gaya hidup masyarakat modern saat ini yang minim gerak, sering duduk terlalu lama, dan kurang menjaga postur tubuh.
Dalam podcast tersebut, dr. Mahdian menjelaskan bahwa saraf kejepit atau Hernia Nukleus Pulposus (HNP) terjadi ketika bantalan tulang belakang mengalami kerusakan atau menonjol hingga menekan saraf di sekitarnya.
Kondisi ini bukan hanya menyerang orang lanjut usia, tetapi juga banyak dialami usia produktif akibat pola hidup sedentary. Duduk terlalu lama, posisi membungkuk saat bekerja, hingga kebiasaan mengangkat beban dengan teknik yang salah menjadi pemicu utama.
Gejala Saraf Kejepit yang Sering Diabaikan
Salah satu hal yang menarik perhatian publik dari obrolan tersebut adalah penjelasan bahwa saraf kejepit sering diawali gejala ringan yang kerap diabaikan. Banyak pasien awalnya hanya merasakan pegal di pinggang atau leher, namun lama-kelamaan muncul nyeri menjalar, kesemutan, kebas, bahkan kelemahan otot.
Pada kasus tertentu, rasa sakit bisa sangat mengganggu hingga membuat penderita sulit berjalan, duduk lama, atau tidur nyenyak.
dr. Mahdian juga menyoroti fenomena meningkatnya kasus saraf kejepit pada pekerja kantoran dan generasi muda. Kebiasaan menunduk saat bermain ponsel atau bekerja di depan komputer membuat tekanan pada tulang belakang meningkat.
Jika berlangsung terus-menerus tanpa diimbangi olahraga dan postur tubuh yang baik, bantalan tulang belakang bisa mengalami kerusakan lebih cepat.
Selain faktor duduk terlalu lama, olahraga yang tidak tepat juga dapat memicu saraf kejepit. Banyak orang memaksakan angkat beban berat saat otot belum cukup kuat menopang tubuh. Akibatnya, tekanan berlebih justru bertumpu pada bantalan tulang belakang. Inilah mengapa penting memahami teknik olahraga yang benar dan tidak memaksakan diri.
Faktanya, Saraf Kejepit Bisa Ditangani Tanpa Operasi Besar di Rumah Sakit Lamina
Kabar baiknya, saraf kejepit tidak selalu harus ditangani dengan operasi besar. Dalam podcast tersebut, dr. Mahdian menjelaskan perkembangan teknologi medis modern yang memungkinkan penanganan minimal invasif.
Salah satu teknologi yang banyak dibahas adalah metode Joimax dari Jerman, teknik endoskopi tulang belakang dengan sayatan sangat kecil sehingga risiko nyeri pascatindakan dan masa pemulihan menjadi lebih ringan. Teknologi ini bahkan telah digunakan untuk membantu ribuan pasien dengan keluhan saraf kejepit.
Menurut dr. Mahdian, penanganan terbaik tetap bergantung pada tingkat keparahan kondisi pasien. Pada tahap awal, terapi konservatif seperti fisioterapi, penguatan otot inti, menjaga berat badan ideal, dan memperbaiki postur tubuh dapat membantu mengurangi tekanan pada saraf.
Namun jika keluhan semakin berat, nyeri menjalar tidak membaik, atau muncul kelemahan anggota gerak, pemeriksaan medis lebih lanjut sangat disarankan agar tidak terjadi komplikasi permanen.
Podcast ini menjadi pengingat penting bahwa gaya hidup modern ternyata memiliki dampak besar terhadap kesehatan tulang belakang. Jangan menunggu sampai nyeri mengganggu aktivitas harian.
Mulailah lebih peduli dengan postur tubuh, rutin bergerak setiap beberapa jam, serta melakukan olahraga yang aman dan terukur. Jika muncul gejala seperti nyeri pinggang menjalar ke kaki, leher terasa kaku disertai kesemutan, atau kebas berkepanjangan, segera konsultasikan ke dokter spesialis agar mendapatkan penanganan yang tepat sejak dini.
Jangan tunda pemeriksaan, dan segera jadwalkan konsultasi dengan dokter spesialis di Rumah Sakit Lamina dengan menghubungi nomor Whatsapp 0811-1443-599.








